Search

Loading...

Friday, August 20, 2010

ASUHAN KEEPERAWATAN KELUARGA DENGAN HIPERTENSI

Posted by vini np at 9:02 AM
BAB I

PENDAHULUAN

1. A. LATAR BELAKANG

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolic di atas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolic 90 mmHg.

Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke dan gagal ginjal. Disebut sebagai “pembunuh diam-diam” karena orang hipertensi sering tidak menampakkan gejala. Institute Nasional Jantung, Paru dan Darah memperkirakan separuh orang yang menderita hipertensi tidak sadar akan kondisinya. Begitu penyakit ini diderita, tekanan darah pasien harus dipantau teratur karena hipertensi merupakan kondisi seumur hidup.

Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90% diantara mereka menderita hipertensi esensial (primer), dimana tidak dapat ditentukan penyebab medisnya. Misalnya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu (hipertensi sekunder), seperti penyempitan arteri renalais atau penyakit parenkim ginjal, berbagai obat, disfungsi organ, tumor dan kehamilan.

Hipertensi merupakan risiko morbiditas dan mortalitas premature, yang meningkat sesuai dengan peningkatan tekanan sistolik dan diastolik. Laporan Joint Nationale Committee on Detection Evaluation and Treatment of High Blood Presure (1993) yang kelima mengeluarkan panduan baru mengenai deteksi, evaluasi dan penanganan hipertensi. Komite ini juga memberikan klasifikasi tekanan darah pada individu berumur 18 tahun ke atas, yang akan sangat berguna sebagai criteria tindak lanjut bila digunakan berdasarkan pemahaman bahwa diagnosis didasarkan pada rata-rata dua pengukuran yang dilakukan secara terpisah.

Hipertensi esensial biasanya dimulai sebagai proses labil (intermitten) pada individu pada akhir 30-an dan awal 50-an dan secara bertahap menetap. Pada suatu saat dapat saja terjadi secara mendadak dan berat, perjalannya dipercepat atau “maligna” yang menyebabkan kondisi pasien memburuk dengan cepat. Gangguan emosi, obesitas, konsumsi alkohol yang berlebihan, dan rangsangan kopi yang berlebihan, serta tembakau obat-obatan yang merangsang dapat berperan disini, tetapi penyakit ini sangat dipengaruhi factor keturunan. Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita daripada pria, tetapi pria khususnya pria Amerika keturunan Afrika, lebih tidak mampu menoleransi penyakit ini. Di Amerika Serikat, insidens hipertensi meningkat sesuai proses penuaan dan insidens pada orang Amerika keturunan Afrika jauh melebihi orang kulit putih.

1. B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penyusunan makalah ini untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan keluarga pada pasien dengan penyakit hipertensi.

1. C. TUJUAN
1. Tujuan Umum

Mengetahui gambaran umum tentang hipertensi yang terjadi.

1. Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, serta tanda dan gejala yang terjadi pada pasien penderita hipertensi.
2. Mengetahui penatalaksanaan dan asuhan keperawatan keluarga yang seharusnya diberikan pada pasien penderita hipertensi

BAB II

LANDASAN TEORITIS

1. A. PENGERTIAN

Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolic nya diatas 90 mmHg (Smith Tom, 1995). Menurut WHO penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama dengan atau lebih besar 95 mmHg.

Hipertensi dikatagorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95-104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105-114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih (Smith Tom, 1995).

1. B. ETIOLOGI

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi dua golongan besar, yaitu(Lany Gunawan,2001)

1. Hipertensi Primer (Essensial), yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.
2. Hipertensi Sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain.

Hipertensi primer belum diketahui pasti penyebabnya, penelitian sebelumnya menemukan beberapa factor yang sering menyebabkan hipertensi. Factor-faktornya adalah sebagai berikut:

1. Faktor keturunan

Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.

1. Ciri Perseorangan

Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur, (jika umur bertambah maka tekanan darah meningkat), jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi daripada perempuan) dan ras (ras kulit hitam lebih banyak daripada kulit putih).

1. Kebiasaan hidup

Kebiasaan hidup yang sering menimbulkan hipertensi adalah; konsumsi garam yang tinggi (melebihi 30 gr), kegemukan atau makan berlebihan, stress, dan pengaruh lain, misalnya merokok, minum alcohol, minum obat-obatan (ephedrine,prednisone, dan epinephrin).

1. C. PATOFISIOLOGI

Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganlia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinephrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriksi.

Individu dengan hipertensi sangat meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi.

Medulla adrenal mensekresi epinephrine, yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian di ubah menjadi angiotensin II, suatu vasokontriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan rtensi Natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vascular. Semua factor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

Untuk pertimbangan gerontology, perubahan sruktural dan fungsional pada sistem pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (Volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner & Suddarth, 2002).

1. D. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala pada hipertensi menurut Edward K Chung, 1995 adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan artei tidak terukur.

1. Gejala yang lazim

Sering dikatakan gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataan ini meruapakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan. Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala . Bila demikian gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung,. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing.

1. E. PENATALAKSANAAN

Deteksi dan tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik di bawah 140 mmHg dan tekanan diastolic di bawah 90 mmHg dan mengntrol factor risiko. Hal ini dapat di capai melalui modifikasi gaya hidup saja atau dengan obat antihipertensi.

1. Terapi tanpa Obat
1. Diet; yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :

* Penurunan konsumsi garam dari 10 gr/hari menjadi 5 gr/hari
* Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
* Penurunan berat badan
* Penurunan asupan etanol

1. Latihan fisik atau olahraga yang teratur dan terarah.

* Olahraga yang dianjurkan seperti lari, jogging, bersepeda, berenang, dan lain-lain.
* Lamanya latihan berkisar antara 20-25 menit berada dalam zona latihan.
* Intensitas olahraga yang baik antara 60-80% dari kapasitas aerobic atau 72-80% dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan.
* Frekuensi latihan sebaiknya 3 kali/minggu dan lebih baik lagi 5 kali/minggu.

1. Pendidikan kesehatan (penyuluhan)

Tujuan pendidikan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplkasi lebih lanjut.

1. Terapi dengan Obat

Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pilihan obat untuk penderita hipertensi adalah sebagai berikut :

1. Hipertensi tanpa komplikasi : diuretic, beta blocker.
2. Hipertensi dengan indikasi penyakit tertentu : inhibitor ACE, penghambat reseptor angiotensin II, alfa blocker, alfa-beta-blocker, beta blocker, antagonis Ca dan diuretic
3. Indikasi yang sesuai Diabetes Mellitus tipe I dengan proteinuria diberikan inhibitor ACE.
4. Pada penderita dengan gagal jantung diberikan inhibitor ACE dan diuretic.
5. Hipertensi sistolik terisolasi : diuretic, antagonis Ca dihidropiridin kerja sama.
6. Penderita dengan infark miokard : beta blocker (non ISA), inhibitor ACE (dengan disfungsi sistolik).


selengkapnya klik disini

0 comments:

Post a Comment

 

vini np's site | 2008-2014 |Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review

Winking Line Smiley